"Korupsi Buah dari Kemakmuran"
JAKARTA - Korupsi terus membudaya bahkan semakin
memawabah di Indonesia. Menurut politikus senior Partai Demokrat, Ahmad
Mubarok, korupsi sebetulnya telah terjadi sejak zaman pemerintahan
Soeharto.
Namun, kata Mubarok, pada rezim Orde Baru korupsi merajalela karena
ditutupi oleh sistem yang ada. Berbeda, dengan era perubahan saat ini,
semuanya serba terbuka.
"Dulu di zaman Soeharto korupsi juga banyak tapi kan sistem menutupi dan
sekarang zaman perubahan. Apa saja terbuka, korupsi terbuka. Jadi saya
pikir positif," ujar dia saat menghadiri acara deklarasi Forum Peduli
Memerangi Korupsi (FPMK), di wisma Purnawira, Jakarta, Minggu
(9/12/2012).
Meski menurutnya saat ini upaya pemberantasan korupsi mengalami
peningkatan satu digit, pengawasan ketat harus tetap terus dilakukan,
mengingat korupsi itu melanda di negara mana saja, baik itu negara
makmur maupun negara miskin.
"Sebetulnya korupsi itu buah dari kemakmuran. Sebab kalau negeri itu
makmur itu pasti ada korupsinya. Kalo negeri miskin korupsi itu juga
sangat merajalela. Karena pertumbuhan ekonomi yang tidak disertai dengan
pengawasan yang ketat maka korupsi terjadi. Di semua negara terjadi,"
tandasnya.
Mubarok menambahkan, peningkatan pemberantasan korupsi saat ini
merupakan hal yang positif. Namun, ia menyesalkan media massa yang hanya
memberitakan berita korupsinya bukan kepada penanganannya.
"Contoh sekarang ini koran mengatakan bupati A berhasil membobol
anggaran di situ disebutnya ‘berhasil’, disitu kalau disebut
keberhasilan semua orang mengejar. Jadi, budaya kita salah, tapi jika
dikatakan ‘bupati belepotan dengan najis korupsi’. Nah, itu dampaknya
berbeda jadi budaya kita memang karena sistem yang tumpang tindih maka
korupsi banyak, penanganannya belabrah, kemudian, ya masih mirip-mirip
dengan trial and error," ungkapnya.
Badegos Ronggas
Tidak ada komentar:
Posting Komentar